Peoples' Conservation Summit

Coming soon.

Peoples' Conservation Summit

Dekolonisasi Konservasi: Menyusun Ulang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati yang Berkeadilan dan Berkebudayaan di Indonesia

1-3 September 2026* | Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta*

Road to COP17 Convention on Biological Diversity (CBD), Armenia

#DekolonisasiKonservasi #KonvservasiRakyat

Tentang Peoples' Conservation Summit

  • 500 Peserta

    Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, nelayan, petani, perempuan, dan generasi muda, serta Organisasi Masyarakat Sipil, akademisi lintas disiplin, dan perwakilan sektor pemerintah.

  • High-Level Panel

    untuk memperkuat komitmen politik

  • 8 sesi

    Panel Konservasi Rakyat

  • 8 sesi

    Dialog Kebijakan

  • 16+ Side Event

  • Network Hub and Learning Fair

Peoples’ Conservation Summit (PCS) adalah ruang perjumpaan nasional yang mempertemukan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, nelayan, petani, perempuan, generasi muda, akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, sektor filantropi, dan mitra pembangunan untuk mendiskusikan masa depan konservasi Indonesia.

PCS hadir untuk mendorong perubahan paradigma konservasi dari pendekatan yang eksklusif menuju konservasi yang berbasis hak, berkeadilan, menghormati keberagaman budaya, dan mengakui Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sebagai pemegang pengetahuan sekaligus penjaga utama keanekaragaman hayati.

Konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian Road to COP17 Convention on Biological Diversity (CBD) yang akan berlangsung di Armenia pada Oktober 2026.

Melalui forum ini, pengalaman dan pengetahuan yang lahir dari berbagai wilayah Indonesia akan dihimpun menjadi kontribusi nyata bagi agenda konservasi nasional maupun global.

Mengapa Peoples' Conservation Summit Penting?

Konservasi Lebih Dulu Hidup dalam Nadi Masyarakat

Di seluruh Indonesia, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal telah menjaga hutan, sungai, pesisir, laut, dan berbagai bentang alam melalui sistem pengetahuan, nilai budaya, serta tata kelola yang diwariskan lintas generasi. Praktik seperti Leuweung Titipan, Tana' Ulen, Sasi, dan Awig-awig menunjukkan bahwa konservasi bukanlah konsep baru. Konservasi telah hidup sebagai bagian dari cara masyarakat merawat alam dan ruang hidupnya.

Namun, kontribusi tersebut masih belum sepenuhnya diakui dalam sistem konservasi nasional. Meski masyarakat terbukti berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, banyak wilayah kelola mereka masih menghadapi ketidakpastian tenurial, tumpang tindih perizinan, pembatasan akses, hingga ancaman terhadap pengetahuan tradisional yang mereka miliki. Pada saat yang sama, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus meningkat akibat ekspansi industri ekstraktif, perubahan tata guna lahan, dan berbagai model pembangunan yang belum menempatkan masyarakat sebagai pemegang hak dan pengelola utama ruang hidupnya.

Peoples’ Conservation Summit (PCS) hadir untuk menjawab tantangan besar:

  1. Bagaimana kebijakan konservasi nasional dapat secara konkret mengakui praktik konservasi berbasis masyarakat sebagai bagian dari sistem konservasi Indonesia?
  2. Kebijakan dan regulasi apa yang perlu direformasi untuk mengakhiri warisan fortress conservation yang masih meminggirkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari wilayah konservasi?
  3. Bagaimana pengetahuan tradisional dan sistem ekologis masyarakat dapat diakui, diintegrasikan sebagai dasar pengambilan keputusan, riset dan pengembangan teknologi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati?
  4. Bagaimana kebijakan pembangunan, industri ekstraktif, dan ekonomi hijau dapat dikaji ulang agar tidak mempercepat hilangnya wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi yang dijaga masyarakat?
  5. Apa yang bisa dilakukan untuk memastikan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sebagai pemilik pengetahuan knowledge holders menerima manfaat dari skenario konservasi dan pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati?

Tema Utama

PCS 2026 mengangkat tema:
“Dekolonisasi Konservasi: Menyusun Ulang Pengelolaan Keanekaragaman Hayati yang Berkeadilan dan Berkebudayaan di Indonesia”

Tema ini mengajak seluruh pihak untuk merefleksikan kembali paradigma konservasi yang selama ini berkembang, serta mendorong model pengelolaan keanekaragaman hayati yang menghormati hak masyarakat, keberagaman budaya, dan keberlanjutan ekologi.

Tujuan Peoples' Convention Summit

  • Meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik tentang peran penting Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati dan menghadapi krisis iklim.
  • Memperkuat dialog dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, donor, dan sektor swasta dalam implementasi Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF).
  • Mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam pengakuan wilayah adat, tata kelola berbasis komunitas, serta integrasi pengetahuan tradisional dalam kebijakan konservasi dan iklim.
  • Mendorong pendekatan konservasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan hak asasi, dengan mengakui pengetahuan lokal sebagai bagian penting dari solusi keberlanjutan.
  • Membangun komitmen bersama untuk memperkuat pengakuan, perlindungan, dan pendanaan bagi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam implementasi KM-GBF, IBSAP, dan agenda iklim Indonesia.
  • Mempertunjukan pembelajaran baik/ collective contribution Indonesia dalam implementasi KM-GBF dan IBSAP dalam forum COP-17 UNCBD

Hasil yang Diharapkan

Peoples’ Conservation Summit diharapkan menghasilkan:

  • Deklarasi bersama dan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat pengakuan hak dan kontribusi masyarakat dalam konservasi.
  • Dokumen Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia yang mendokumentasikan praktik baik konservasi berbasis masyarakat.
  • Penguatan jejaring kolaborasi multipihak untuk mendukung implementasi target-target keanekaragaman hayati nasional dan global.
  • Kontribusi substantif dari Indonesia yang akan disampaikan dalam COP17 Convention on Biological Diversity.

Agenda Utama PCS

Panel Konservasi Rakyat

Ruang berbagi pengalaman dan pengetahuan dari Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal mengenai praktik konservasi yang hidup di berbagai wilayah Indonesia.

Dialog Kebijakan

Forum yang mempertemukan masyarakat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan untuk membahas reformasi tata kelola konservasi Indonesia.

High-Level Panel

Forum tingkat tinggi yang menghadirkan tokoh nasional, pemimpin Masyarakat Adat, akademisi, kementerian, lembaga internasional, dan mitra pembangunan untuk mendiskusikan arah kebijakan konservasi Indonesia dan posisi Indonesia menuju COP17 CBD.

Network Hub & Learning Fair

Ruang pameran dan pembelajaran bersama untuk menampilkan berbagai inisiatif, karya, inovasi, penelitian, produk pengetahuan, dan praktik baik konservasi berbasis masyarakat.

Road to COP17 CBD

Peoples’ Conservation Summit (PCS) merupakan bagian dari rangkaian proses kolektif menuju COP17 Convention on Biological Diversity (CBD) yang akan berlangsung di Armenia pada Oktober 2026. Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan selama tiga hari, tetapi sebuah proses panjang untuk menghimpun pengetahuan, pengalaman, dan aspirasi dari berbagai wilayah di Indonesia serta membangun komitmen bersama untuk masa depan konservasi keanekaragaman hayati Indonesia yang adil dan inklusif.

Linimasa Penting

  • Juli – Agustus 2026

    Pengumpulan kontribusi dan penyusunan Local Biodiversity Outlook Indonesia

  • 1-3 September 2026

    Peoples’ Conservation Summit 2026

  • 16–30 October 2026

    September 2026 Finalisasi Deklarasi PCS dan Local Biodiversity Outlook Indonesia

  • 16–30 October 2026

    COP17 Convention on Biological Diversity (CBD), Armenia

Ambil Bagian dalam Peoples' Conservation Summit

  1. 1. Berkontribusi dalam Local Biodiversity Outlook (LBO)

    Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia adalah sebuah dokumen yang menghimpun pengalaman, pengetahuan, inovasi, dan praktik baik Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati.

    LBO Indonesia akan menjadi laporan pelengkap (complementary report) yang menunjukkan kontribusi nyata masyarakat dalam implementasi Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) dan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP), sekaligus akan disampaikan dalam momentum COP17 CBD.

    Kami mengundang komunitas, organisasi, peneliti, akademisi, dan individu untuk berbagi cerita, pembelajaran dan pengalaman, dan pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam membangun masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi [email protected] (masuk ke dalam template email permohonan informasi seputar LBO. automatisasi email yang langsung ditujukan ke [email protected] dengan Subjek: Info_LBO)

  2. 2. Menjadi Kolaborator dan Peserta

    PCS dibangun melalui kolaborasi multipihak. Kami membuka ruang bagi organisasi masyarakat sipil, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, media, filantropi, dan mitra pembangunan untuk berpartisipasi sebagai mitra penyelenggara, knowledge partner, communication partner, supporting partner, maupun peserta.

  3. 3. Menyelenggarakan Side Event dan Learning Fair

    PCS menyediakan ruang bagi organisasi, komunitas, dan lembaga untuk berbagi pengalaman, hasil penelitian, produk pengetahuan, karya kreatif, inovasi sosial, serta praktik baik yang mendukung konservasi berbasis masyarakat. Informasi lebih lanjut untuk pendaftaran dan keterlibatan di side event dan pameran dapat menghubungi [email protected] dan cc to: [email protected]

Pendaftaran untuk Peserta, Mitra, Side Event, dan Kontributor Local Biodiversity Outlook (LBO) akan segera hadir.

  • Daftar PCS 2026
  • Kontributor LBO
  • Menjadi Mitra
  • Penyelenggara Side Event